Sekilas Sejarah Salaf Al-Alawiyin - page2

Naqobatul Asyrof Al-Kubro

Lembaga Pemeliharaan, Penelitian Sejarah dan Silsilah “ALAWIYIN”

PENGANTAR PENERBIT ‘ALAM ALMA'RIFAH JEDDAH

"Perjalanan Hidup Para Salaf dari Bani Alawi Keturunan Sayidina Hussein", adalah judul sebuah ceramah yang disampaikan oleh Sayid Muhammad Ahmad Assyathiri di tengah sejumlah pemuda, di rumah Al Faqih Al Muqaddam, di kota Tarim, pada tahun 1367 H./1947 M., sesuai waktu ceramah yang telah ditetapkan.

Meskipun demikian, ceramah tersebut cukup memberi gambaran umum tentang perilaku para salaf yang saleh keturunan Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-­Uraidhi bin Ja'far Asshadiq bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein putra Imam Ali bin Abi Thalib, dan putra Sayidah Fatimah AzZahra rah. putri Rasulullah Muhammad SAW.


PERSEMBAHAN


Kepada mereka yang mendambakan untuk mengetahui perjalanan hidup para salaf Alawiyin keturunan Sayidina Husein, namun tidak mempunyai cukup waktu, sementara suasana tidak memungkinkan mereka menelusuri kitab-kitab besar yang me­nyebarluaskan sejarah para salaf tersebut, saya per­sembahkan ceramah yang telah disampaikan sekitar 37 tahun lalu kepada para pemuda yang telah meminta saya untuk menyampaikan ceramah itu. (Webmaster : 56 tahun terhitung hingga saat ini tahun 2003).

Namun menurut pandangan kami, saat seka­ranglah saat yang paling tepat untuk menyebar luaskannya lebih dari wakt-u-waktu yang lampau. Sebab ia menggambarkan kehidupan salaf dari semua segi yang telah dinukil dengan teliti dari sumber-sumber yang dapa: dipercaya, sehingga dengan demikian para peminat tidak perlu lagi bersusah payah membahas dalam menyelidiki tentang hakikat perjalanan hidup para salaf melalui kitab-­kitab yang membahas tentang mereka, baik kitab-­kitab sejarah, biografi atau kumpulan ceramah, yang kini telah tersebar luas melalui percetakan atau foto-copy, yang sebagian besar hanya me­musatkan pada segi-segi tasawuf, tanpa memper­hatikan bidang-bidang kehidupan yang lain. Hal ini dikhawatirkan akan memberi gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan hidup mereka.

Kami berharap pembaca akan mengkajinya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, serta membulatkan tekad untuk melaksanakan ajaran yang terkandung di dalamnya, mendidik generasi penerus dengan akhlak dan budi luhur para salaf yang mirip sekali dengan perilaku Nabi dan para Sahabat, sehingga mereka benar-benar menjadi orang yang mengabdi kepada ilmu, keluhuran budi, Islam dan kaum Muslimin.

Itulah tujuan utama ceramah ini. Terutama, apabila mereka benar-benar mencintai para salaf.


"Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasul) niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah adalah maha pengampun maha penyayang".




Muhammad Ahmad Assyathiri


====== O ll O ======


MUKADIMAH


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang


Dengan nama Allah kami mohon pertolongan. Shalawat dan salam sejahtera atas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga dan para Sahabat.

Pokok pembahasan ceramah ini adalah per­jalanan hidup para salaf pendahulu kita keturunan Alawiyin dan Sayidina Husein, serta siapa-siapa yang mengikuti jejak mereka. Semoga Allah mencurahkan rahmat atas semua.

Saya pilih bidang bahasan ini karena disamping mengandung banyak pengetahuan tentang sejarah kita - ia merupakan bidang perselisihan dalam pemahamannya. Berbagai macam visi telah timbul, disebabkan tidak adanya, di antara kita dewasa ini, orang-orang yang melakukan penye­lidikan secara teliti dengan cara penulisan yang memuaskan, sampaipun mereka yang merasa diri­nya sangat antusias terhadap sejarah perjalanan hidup para salaf tersebut.

Kendati demikian, kami tidak menyampaikan kecuali hal-hal yang benar-benar jelas dan terang laksana matahari di waktu siang, tersurat di dalam kitab-kitab Alawiyin, baik yang lama maupun yang baru sehingga dapat dimengerti secara jernih dan mudah dicerna.

Memang, kesalahpahaman dalam memahami perjalanan hidup salaf tidak ditimbulkan karena samar dan tidak jelasnya sejarah itu, melainkan karena keengganan kita dan tidak adanya usaha yang sungguh-sungguh dalam menjalankan kewajib­an itu.

Barangkali kelak akan datang suatu saat, di mana menyatakan pendapat atau membahas, per­soalan-persoalan semacam ini, atau fakta-fakta historis yang lain akan mempunyai arti yang sangat penting di mana orang sangat mendambakan untuk memperoleh, meskipun hanya sekilas cahaya dari padanya agar dapat menerangi mereka menuju jalan yang lurus.


Siapa Salaf ?

Kata Salaf mempunyai beberapa penggunaan. Penggunaan secara umum, yaitu sebagai istilah yang dipakai oleh ahli-ahli ilmu agama sebagai sebutan khusus bagi mereka yang hidup pada abad-­abad pertama, kedua, dan ketiga Hijrah, atau dengan kata lain sebagai sebutan bagi para sahahat Nabi, tabi'in dan tabi'it-tabi'in.

Namun ulama Hadramaut (dari golongan Ala­wiyin) menggunakan sebutan itu selain bagi mereka yang tersebut di atas juga bagi pendahulu-­pendahulu mereka (kaum Alawiyin) yang saleh. Habib Abdullah Al-Haddad [1] membatasi penggunaan sebutan itu mulai dari Syekh Ali bin Abubakar As-Sakran [2] ke atas "Mereka," kata Al-Haddad, "adalah orang-orang di mana kita tunduk sepenuhnya (dalam segala hal) yang mereka lakukan. Adapun yang datang kemudian, mereka ’laki-laki' dan kita 'laki-­laki' (yakni kita herhak mengikuti atau menolak sesuai dengan dalil)."

Kendati demikian, ucapan Al Haddad ini tidak menghalangi mereka yang datang sesudah Syekh Ali Abubakar As-Sakran , bahkan Al Haddad sendiri dan murid-muridnya, untuk digolongkan sebagai salaf. Sebab telah menjadi istilah ulama Hadramaut terdahulu - sampaipun mereka yang akhir-akhir ini masih bisa kita jumpai menggunakan kata salaf bagi pendahulu mereka yang saleh. di mana kemudian akan kami jelaskan tahap-tahapnya.