Sekilas Sejarah Salaf Al-Alawiyin - page 5

Naqobatul Asyrof Al-Kubro

Lembaga Pemeliharaan, Penelitian Sejarah dan Silsilah “ALAWIYIN”

TAHAP KEDUA ( a )


Tahap ini bermula-seperti telah kami terang­kan pada awal ceramah - dari abad ketujuh H hingga menghampiri abad kesembilan H. Yakni dari masa Al Fagih Al Muqaddam hingga mendekati zaman Al-Habib Abdullah Al Haddad. Tokoh-tokoh tahap ini terkenal dengan gelar "Syekh". Apabila kita hendak membuat suatu per­bandingan antara tokoh-tokoh masa ini, yang di antara tokoh-tokohnya adalah para Imam seperti Al Faqih Mugaddam[5] , Assegaf[6] , Al Muhdhar[7] , Al-A'idarus[8] , Zain Al-A'bidin Al-A'idarus [9] dengannya tanpa di sini patut kita kemukakan secara obyektif, bahwa tokoh-tokoh tahap ini, dalam kenyataan­nya yang dibuktikan melalui karya dan hasil tulisan mereka, tidaklah mencapai hasil atau kualitas puncak, baik dalam penulisan karya-karya ilmiah maupun dalam syair. Bahkan tidak kita jumpai di antara karya mereka yang menunjukkan kejenius­an dan kehebatan dalam bidang-bidang ilmu dan kebudayaan yang dapat mengimbangi keunggulan mereka dalam bidang akhlak dan pengamalan agama.

Hal itu, tampaknya, disebabkan oleh pengaruh tasawuf yang mendalam, sehingga tokoh-tokoh tahap ini tidak begitu memperhatikan untuk ber­karya, baik dalam lapangan budaya maupun karya-­karya ilmiah (sebab tasawuf hanya memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa memberikan perhatian yang cukup besar terhadap segi-segi lahiriah - penerj.). Kalaupun ada, hal itu tidak banyak di lakukan. Itu pun tanpa memperhatikan pengguna­an bahasa yang indah, terpilih dan tersusun rapi dalam penampilan yang kuat. Dalam penulisan, tokoh-tokoh tahap ini sering menggunakan bahasa sehari-hari (atau dialek setempat) dalam meng­ungkapkan suatu hakikat, dan dengan cara apa adanya tanpa mempedulikan susunan atau gaya bahasa.

Adapun dalam bidang ekonomi, maka tahap ini telah mengalami peningkatan dibanding dengan tahap sebelumnya. Apabila tahap terdahulu kegiat­annya terbatas pada bidang pertanian saja, dengan menginvestasikan kekayaan mereka hanya dalam bidang ini saja, maka Alawiyin pada tahap ini - di samping pertanian - telah juga berinvestasi di bidang perdagangan. Mereka mendirikan pusat­-pusat perdagangan di pesisir Hadramaut, Aden dan Yaman. Mereka juga mengadakan perjalanan dagang ke India dan negara-negara lain, disertai dakwah menyiarkan agama Islam. Adapun per­jalanan ke Timur (negara-negara Asia Tenggara), untuk kedua tujuan tersebut, maka hal itu baru mereka lakukan kemudian (yakni sekitar abad kesebelas H. - penerj.). Dengan cara demikian mereka perluas daerah perdagangan serta kegiat­annya di dalam negeri dengan mengalirya arus barang dan uang, yang sebelumnya kegiatan mereka hanya terbatas pada bidang pertanian saja.

Perlu dikemukakan, meskipun tokoh-tokoh Alawiyin melakukan berbagai kegiatan ekonomi, namun berkat disiplin ketat, kekuatan iman dan takwa, mereka tetap tekun dalam menjalankan ibadah, membaca wirid-wirid khusus, dan ber­dakwah. Allah telah berkenan memberikan berkah waktu dengan membagi masing-masing kegiatan secara cermat, sehingga dapat melakukan semua kegiatan itu dengan sempurna, sesuai keseimbangan yang digariskan oleh syari'at.

Berbicara mengenai tingkat kesufian Alawiyin tahap ini, maka seperti telah dikemukakan pada awal ceramah. bahwa "Tarekat Tasawuf" baru dikenal di hadramaut pada awal abad ketujuh H. ketika Syekh Abu Madyan - tokoh ahli Sufi dari negeri magrib (Afrika utara) mengutus murid­nya yang tepercaya ke negeri Hadramaut untuk menghubungi Alfagih Al Muqaddam secara khusus dan beberapa ulama yang lain di negeri ini. Dalam pada itu, Syekh Abu Madyan juga mengirim "khirqah" tasawuf, berupa sehelai baju yang di­pakaikan oleh seorang guru (tasawuf) kepada muridnya, yang dengan demikian seorang guru berhak rnengarahkan pendidikan muridnya itu (secara tasawuf ).

Melalui seorang muridnya, sebagai perantara, Syekh Abu Madyan memakaikan "khirqah" itu kepada Al Faqih Al Muqaddam. Ketika Syekh Abu Marwan, guru Al Faqih Al Muqaddam mengetahui hal itu, ia menjadi marah, demikian juga dengan beberapa ulama Tarim yang tidak menyukai hal itu, sebab mereka khawatir akan kehilangan cita­cita dan rencana mereka untuk menokohkan Al Faqih Al Muqaddam sebagai pemimpin dan Imam. Ketika itu Alfagih Almugaddam belajar beberapa cabang ilmu dari Syekh Abu Marwan dengan acap­kali menyandang senjata, bahkan kadang-kadang sambil belajar ia meletakkan pedang menyilang di atas pahanya.

Orang-orang yang kurang senang dengan tidakan­ Al Faqih Al Muqaddam itu, mengira apa yang kelak akan dilakukan oleh Al Faqih Al Muqaddam merupakan salah satu tarekat yang hanya semata ­mata memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa menghiraukan urusan duniawi. Namun sesungguh­nya Alfagih lebih bijaksana serta berpandangan jauh dan luas. Ia tidak menginginkanm pengikutnya mengenakan gombal bertambal (muragga'at), mengembara tanpa arah sebagai "darwisy" (orang 'fakir') yang melakukan cara-cara aneh dalam men­dekatkan diri kepada Tuhan, atau menjalankan latihan-latihan ruhani (yang berlebihan). Al Faqih Al Muqaddam melarang pengikutnya bertaklid buta terhadap guru, khususnya dalam hal-hal yang ada kemungkinan bertentangan dengan Alkitab dan Sunnah.

Tarekat yang dianut oleh Alfagih Al Muqaddam dan pengikutnya adalah "Atthariqah Al-Alawiyah" yang dasarnya adalah mengikuti apa yang tersurat di dalam Alkitab (Alqur'an) dan Assunnah (ajaran Nabi), meneladani tokoh-tokoh Islam kurun per­tama (para sahabat dan tabi'in). Itulah yang di­nyatakan di dalam kitab-kitab mereka, ceramah dan nasihat agama, dan surat menyurat mereka antara yang satu dengan yang lain, serta dikuatkan pula oleh perilaku dan tindak tanduk Salaf Al­ alawiyin.


Hal ini diungkapkan oleh salah seorang tokoh Alawiyin yaitu Habib Abdullah Al Haddad dalam sebuah bait syair sebagai berikut :

Berpegang teguhlah engkau dengan Kitab Allah,ikutilah Sunnah nabi

Serta teladanilah para Salaf terdahulu Semoga Allah memberi engkau petunjuk-Nya


Demikian pula dinyatakan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi :

Demikian inilah amalan-amalan murni dari segala campuran

Ditambah ilmu dan keluhuran akhlak serta wirid-wirid yang cukup banyak


Dengan demikian jelaslah, golongan Alawiyin pengikut tarekat tasawuf, tetapi tasawuf mereka tidak menghalangi untuk melakukan tugas-tugas kehidupan, baik yang bersifat kemasyarakatan (sosial), keluarga maupun pribadi. Dalam segi tasawuf ini, Alawiyin menyerupai sahabat Nabi dan para tabi'in yang terkenal dengan kesufiannya namun tidak terhalang untuk berjihad menyebar­luaskan ilmu dan dakwah.

Kaum Alawiyin adalah penganut madzhab tasawuf yang berintikan sikap zuhud. Namun zuhud tidak menghalangi mereka untuk mengum­pulkan harta yang amat besar jumlahnya asal di­peroleh melalui jalan yang wajar dan halal, yang kemudian disalurkan untuk kepentingan umum, menjamu tamu, mendirikan masjid dengan men­cadangkan wakaf untuk pembiayaannya, menggali sumur untuk menyediakan air bersih yang sangat diperlukan, membuka dapur-dapur umur, dan mendirikan pondok pesantren untuk menyebar­luaskan ilmu dan dakwah ke jalan Allah. Meng­usahakan perdamaian dan memperbaiki hubungan antara golongan-golongan yang bersengketa, ber­sedekah dan membantu mereka yang memerlukan bantuan.

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi penga­nut madzhab Syafi'i, namun mereka tidak ber­taklid kepada Syafi'i dalam segala hal. Dalam soal-­soal tertentu, mereka meninggalkan pendapat Syafi'i.

Kaum Alawiyin adalah penganut Al-Asy'ari (dalam soal-soal Tauhid), namun mereka juga meninggalkan faham Al-Asy'ari dalam beberapa hal, seperti mengenai sahnya taklid dalam soal iman.

Meskipun tokoh-tokoh Alawiyin sangat menga­gumi karya-karya Al-Ghazali serta falsafahnya dalam bidang akhlak dan tasawuf, namun mereka tidak mengikutinya secara bertaklid buta, melainkan memperhatikan kekurangan dan kelemahan AlGhazaIi, sehingga ada diantara tokoh mereka yang mengatakan. “Di dalam kitab Ihya' ada beberapa pernyataan seandainya dapat dihapus dengan air mata kami, kami akan melakukannya" [10].

Kaum Alawiyin adalah orang-orang sufi, sebagi­an mereka menyukai nyanyi dan lagu yang sehat tanpa disertai tindakan yang melangar akhlak, apalagi minum-minuman yang memabukan, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tarekat lainnya.

Lanjut ke : Kaum Alawiyin ..... --->>